5 Etika Berbisnis Dengan Kerabat

Thursday, February 6th 2014. | Marketing

Banyak cara untuk membangun bisnis, termasuk bersama kerabat. Sudah banyak contoh bisnis sukses yang dirintis dari hubungan intrapersonal. Sangat menyenangkan jika dari hubungan pertemanan yang akrab tersebut, kemudian berlanjut memiliki ide bisnis dan dijalankan bersama-sama lalu akhirnya menjadi besar dan sukses. Namun, perlu diingat kadang kala bisnis yang dibangun bersama kerabat itu tidak selalu mulus saat menjalaninya.

Ada beberapa hal yang membedakan hubungan bisnis antar kerabat dengan yang lainnya,  kedekatan emosional membuat tata cara menjalin bisnis dengan kerabat tidak sama dengan partner lain. Jangan sampai karena adanya faktor kedekatan emosional tersebut menghambat bisnis yang dijalankan bersama. Begitu pun sebaliknya, jangan sampai hubungan persahabatan yang sudah lama terjalin menjadi rusak karena masalah di dalam bisnis.

Untuk menghindari hal tersebut, perlu diketahui oleh kedua belah pihak etika-etika berbisnis dengan kerabat agar tidak timbul kesalahan kebijakan yang merugikan relasi dan bisnis Anda.

Di bawah ini ada 5 etika berbisnis dengan kerabat, yaitu:

1.      Memilih mitra bisnis

Di awal memulai bisnis, tentukanlah mitra yang akan Anda ajak berbisnis. Di antara sekian banyak kerabat yang Anda miliki tentu tidak semuanya memiliki kecakapan menjalankan bisnis. Sebagian hanya ingin menjadi “penggembira” di belakang usaha Anda sehingga Anda harus bisa membedakan kerabat yang benar-benar memiliki kemampuan dengan yang tidak. Apa bila Anda betul-betul serius ingin menjalin bisnis, pilihlah orang yang tidak hanya pandai tetapi juga memiliki mentalitas kuat, mau berusaha, loyal, dan sanggup menjaga kepercayaan Anda.

2.      Membuat aturan

Relasi bisnis di manapun memerlukan aturan, baik tertulis, maupun tidak tertulis, tak terkecuali dengan kerabat. Walaupun mungkin aturannya tidak seketat ketika menjalin kerjasama dengan partner bisnis lain, namun hal tersebut tetap memiliki pengaruh penting. Tidak dapat dipungkiri jika manusia itu mudah berubah sifatnya, di masa mendatang kerabat Anda bisa saja melakukan sejumlah pelanggaran yang merugikan Anda. Untuk mencegah hal tersebut, maka diperlukan perjanjian yang bisa mengatur hal-hal seperti pembagian hasil, prosentase modal, hak kepemilikan, inventaris usaha, dan lain-lain. Bahkan jika perlu, buatlah perjanjian tertulis di atas materai agar pengaruhnya lebih kuat.

3.      Manajemen konflik

Hal yang paling penting dari hubungan bisnis antar kerabat adalah bagaimana  melakukan manajemen apabila terjadi konflik. Seringkali dalam perjalanan bisnisnya, owner berbeda pendapat atau visi satu sama lain. Pada saat hal itu terjadi, hindari membawa masalah pribadi antar personal ke dalam urusan bisnis, karena hal tersebut pasti akan mempengaruhi keberlangsungan bisnis yang dijalankan. Jika memiliki masalah pribadi, diskusikanlah secara baik-baik untuk mencari solusi dan selesaikan masalah tersebut sebelum mengurusi bisnis. Jika belum menemukan solusi yang tepat, maka buatlah kesepakatan bersama untuk tidak membawa masalah tersebut ke dalam bisnis tersebut.

4.      Pembagian hasil

Penting untuk diperhatikan, banyak contoh bisnis kekerabatan yang sudah dibangun lama menjadi bubar karena konflik kepentingan yang tidak jelas, misalnya soal pembagian keuntungan. Biasanya salah satu pihak merasa memiliki kontribusi yang lebih banyak di banding pihak yang lain. Oleh karena itu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya di poin nomor dua, buatlah peraturan dan perjanjian yang jelas di awal memulai usaha. Tentukan berapa persen bagian keuntungan yang menjadi milik Anda dan  partner Anda berdasarkan perhitungan seperti kepemilikan modal awal dan kontribusi kerja.

5.      Komunikasi yang efektif

Komunikasi bisnis harus dibuat seefektif mungkin. Hal ini untuk mencegah salah kebijakan akibat pesan yang disampaikan tidak diterjemahkan dengan tepat. Jika perlu, gunakanlah bahasa pergaulan atau seperti yang biasa Anda gunakan sehari-hari untuk berkomunikasi dengan kerabat. Hindari penyampaian pesan yang berbelit-belit dan penggunaan istilah yang sulit dimengerti. Sederhananya, komunikasi tersebut harus singkat, padat dan bisa dimengerti oleh kedua pihak.

 

(Bayuaji Alviantoro)

 

Related For 5 Etika Berbisnis Dengan Kerabat